Malam-Malam Terakhir di Makkah

Daftar Isi

 

Malam-Malam Terakhir di Makkah

Setelah rangkaian ibadah yang panjang di Mina selesai—melontar jumrah, berdesakan bersama jutaan jamaah, berjalan jauh di bawah terik matahari, dan menguras seluruh tenaga—kami akhirnya kembali ke Makkah untuk menyempurnakan ibadah-ibadah terakhir.


Tubuh rasanya sudah tidak sanggup diajak berkompromi. Kaki pegal, pundak berat, dan mata menahan kantuk yang luar biasa. Dalam hati hanya ada satu keinginan sederhana: *tidur nyenyak.*


Namun ternyata malam itu tidak berjalan seperti yang kami harapkan.


Saat lampu kamar dipadamkan dan suasana mulai tenang, saya, *Rahmat*, mencoba memejamkan mata. Beberapa saat kemudian tubuh terasa aneh. Seolah ada beban berat menekan dada. Napas terasa sesak. Ingin bergerak tetapi tubuh seperti terkunci. Ingin memanggil teman sekamar, namun suara tak keluar.


Beberapa saat kemudian kondisi itu hilang.


Saya berpikir mungkin hanya kelelahan setelah ibadah yang sangat padat.


Tetapi keesokan malamnya, hal yang sama kembali terjadi.


Yang membuat saya semakin merinding, *Mas H. Anas* ternyata mengalami gangguan serupa. Kami sama-sama merasa sulit tidur dan beberapa kali terbangun dengan perasaan tidak nyaman. Kamar yang seharusnya menjadi tempat beristirahat justru terasa mencekam setiap malam menjelang tidur.


Padahal secara fisik kami benar-benar kelelahan.


Setelah dua malam berturut-turut tanpa istirahat yang cukup, kami mulai mencari kemungkinan penyebabnya. Tas dan perlengkapan perjalanan diperiksa satu per satu. Di tengah pemeriksaan itulah saya menemukan sesuatu yang tidak pernah saya sadari sebelumnya.


Sebuah *batu kecil*.


Batu itu ternyata kemungkinan terbawa tanpa sengaja setelah rangkaian ibadah jumrah di Mina. Entah terselip di saku, tas, atau perlengkapan lainnya.


Saat melihat batu itu, saya langsung teringat bahwa batu jumrah memang digunakan khusus untuk ibadah melontar dan tidak ada keperluan untuk dibawa pulang atau disimpan.


Tanpa banyak berpikir, batu tersebut segera saya buang.


Malam berikutnya kami kembali ke kamar dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Sebelum tidur kami memperbanyak doa, membaca ayat-ayat perlindungan, dan bertawakal kepada Allah.


Dan yang terjadi setelah itu sungguh membuat kami bersyukur.


Malam itu kami tidur dengan nyenyak.


Tidak ada lagi rasa tertekan. Tidak ada lagi perasaan mencekam yang membuat terbangun di tengah malam. Keesokan paginya tubuh terasa lebih segar dibanding dua hari sebelumnya.


Apakah gangguan yang kami alami benar-benar berkaitan dengan batu yang terbawa itu? Hanya Allah yang mengetahui hakikatnya. Bisa jadi karena kelelahan fisik yang luar biasa, bisa juga ada sebab lain yang tidak kami pahami.


Yang pasti, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi kami. Di Tanah Suci, setelah menjalani ibadah yang begitu berat dan penuh makna, kami semakin menyadari bahwa ketenangan sejati bukan hanya datang dari istirahat fisik, tetapi juga dari menjaga adab ibadah, memperbanyak dzikir, serta memohon perlindungan kepada Allah dalam setiap keadaan.


*Alhamdulillah, setelah batu itu dibuang dan doa-doa terus dipanjatkan, malam-malam terakhir kami di Makkah kembali dipenuhi ketenangan.*

Posting Komentar

Produk Andalan AIS

Jual Plat Grating AIS Jual Timah Lembaran AIS Jual Glasswool AIs Jual Peredam Atap Buble Foil Jual Screen Baja AIS Jual Plat Expanded AIS Jual Perforated Plate (Plat Lubang) AIS Jual Zinc Anode dan Aluminium Anode AIS Jual Rockwool AIS Jual Flowmeter Tokico (Solar) AIS
Yuk Cek Produk Andalan AIS

Jual Plat Grating AIS Jual Timah Lembaran AIS Jual Glasswool AIs Jual Peredam Atap Buble Foil Jual Screen Baja AIS Jual Plat Expanded AIS Jual Perforated Plate (Plat Lubang) AIS Jual Zinc Anode dan Aluminium Anode AIS Jual Rockwool AIS Jual Flowmeter Tokico (Solar) AIS