100 Jam Putra Mahkota Magang di Perusahaan Bapak
Oleh: Karyawan yang Hanya Bisa Tersenyam Kecut
Putra mahkota. Pewaris tahta. Calon bos besar. Di kerajaan, dia dilatih naik kuda dan memegang pedang. Di perusahaan keluarga bapaknya, dia dilatih... memfotokopi KTP sambil nanya letak tombol start.
Bapak saya (Direktur Utama) tiba-tiba punya ide gila:
"Anak saya harus magang dulu. Biar tahu susahnya kerja. Biar merakyat."
Ide bagus. Kecuali si putra mahkota bernama Brian (bukan nama sebenarnya, tapi semua anak bos pasti ada yang namanya Brian). Brian baru lulus kuliah di luar negeri, bawa gelar Bachelor of Business Something, dan tidak pernah sekalipun memegang mesin fotokopi.
Inilah catatan 100 jam pertama Brian magang. Saksikan bagaimana logika bisnis keluarga bertabrakan dengan logika dunia nyata.
Jam ke-1 sampai ke-5: Orientasi yang Tidak Pernah Selesai
Brian datang jam 10 pagi (telat satu jam karena macet, katanya). Langsung diantar Bapak keliling kantor.
Bapak: "Nak, ini ruang produksi. Ini gudang. Ini ruang karyawan. Ini toilet. Tolong diingat."
Brian: "Toiletnya ada berapa, Pak?"
Bapak: "Dua."
Brian: "Kenapa tidak tiga? Efisiensi antrean."
Bapak: "Karena kita tidak punya pipa tambahan."
Brian: "Kalau begitu kita bangun pipa baru. Saya punya ide besar."
Jam ke-3, Brian sudah mengusulkan restrukturisasi tata letak toilet. Jam ke-4, dia menggambar denah toilet tiga pintu di papan whiteboard rapat direksi. Jam ke-5, Bapak mengangguk-angguk meskipun wajahnya kusut seperti tahu gepuk.
Saya hanya bertanya dalam hati: Ini magang atau tender proyek sanitasi?
Jam ke-6 sampai ke-20: Fotokopi yang Menjadi Misi Kemanusiaan
Tugas magang pertama yang sebenarnya: fotokopi 500 lembar laporan penjualan. Saya dampingi Brian.
Saya: "Mas Brian, ini tinggal pencet tombol hijau. Kertasnya di sini."
Brian: "Tunggu. Saya ingin memahami filosofi di balik mesin ini."
Saya: "Filosofinya? Tombol hijau untuk mulai."
Brian: "Bukan. Kenapa tombol start harus hijau? Apakah itu sugesti psikologis? Dan kenapa tombol berhenti merah? Apakah merah berarti bahaya? Lalu kenapa kertasnya harus A4? Kenapa tidak A3? Atau A5? Siapa yang menentukan standar ini?"
Dia lalu menelepon temannya yang kuliah desain industri di Belanda. Selama 45 menit. Biaya pulsa ditanggung perusahaan. Sementara 500 lembar laporan tidak ada yang terfotokopi.
Akhirnya saya pencet tombol hijau. Mesin hidup. Brian terkesima.
Brian: "Ini ajaib. Kenapa kamu tidak jelaskan dari tadi?"
Saya: "Karena saya kira tombol hijau adalah universal."
Brian: "Tidak ada yang universal. Bahkan warna hijau bisa bermakna bahaya di budaya lain."
Jam ke-10, Brian mencoba memfotokopi tangannya sendiri. "Untuk seni konseptual," katanya. Jam ke-15, dia berhasil menjadikan mesin fotokopi rusak karena kelebihan beban kertas. Jam ke-20, fotokopi selesai. 500 lembar, tetapi bolak-balik terbalik semua.
Bapak bilang: "Itu gaya baca dari kanan ke kiri. Anak saya belajar budaya Jepang."
Jam ke-21 sampai ke-40: Rapat Direksi Bersama Sang Pangeran
Di rapat mingguan, Brian duduk di kursi dekat Bapak. Dia tidak diberi wewenang bicara, tapi dia bicara terus. Ini potongan logika Brian yang membuat seluruh direksi mengerutkan alis:
Bapak: "Target kita bulan ini naik 15%."
Brian: "Kenapa cuma 15%? Kenapa tidak 150%?"
Bapak: "Karena tidak realistis."
Brian: "Tidak ada yang tidak realistis. Yang ada hanyalah mindset yang terbatas."
Om Budi (Direktur Pemasaran): "Nak, pasar lagi lesu."
Brian: "Jangan salahkan pasar. Salahkan strategi. Saya punya ide: kita jual produk sambil kasih hadiah."
Bapak: "Hadiah apa?"
Brian: "Sertifikat magang di perusahaan kita. Lumayan buat CV."
Semua direksi diam.
Saya (dalam hati): Jadi kita mau menjual produk, lalu hadiahnya adalah kerja gratis di perusahaan kita sendiri. Itu namanya MLM.
Rapat ditutup dengan kesimpulan: target tetap 15%, dan Brian diminta belajar menghitung persen dulu.
Jam ke-41 sampai ke-60: Brian Mengatur Strategi Pemasaran
Karena Bapak mulai merasa Brian perlu "tanggung jawab nyata", dia ditugaskan membuat kampanye media sosial. Brian memanggil tim kreatif (saya dan Mas Anton). Ini hasilnya:
Brian: "Kita buat tagar #HidupProdukKita. Lalu kita minta semua karyawan memposting foto sedang memegang produk."
Saya: "Tapi produk kita adalah baut industri."
Brian: "Ya, baut. Aesthetic kok. Foto baut di atas meja kopi. Pakai lampu hangat. Caption: 'Baut yang mengikat persaudaraan.'"
Mas Anton: "Lalu target pasarnya siapa?"
Brian: "Semua orang. Karena semua orang butuh baut. Pernahkah kamu lihat rumah tanpa baut? Itu akan roboh. Jadi baut adalah kebutuhan dasar manusia, seperti air dan listrik."
Kami diam. Lalu saya buka Instagram Brian. Postingan terakhirnya: foto smoothie bowl dengan caption "Self-care is not selfish". Like 2.500.
Saya lalu tanya: "Mas, kalau foto baut, estimasi like berapa?"
Brian menjawab dengan yakin: "Setidaknya 10.000. Kita beli endorse artis."
Anggaran endorse artis: Rp 200 juta. Target penjualan baut tambahan dari kampanye: Rp 0.
Saya kemudian diam-diam memesan teh manis. Bukan untuk minum. Untuk menenangkan hati.
Jam ke-61 sampai ke-80: Brian Menghadapi Gaji Karyawan
Salah satu tugas magang yang paling "membumi": menghitung gaji karyawan bersama tim HRD. Brian duduk di depan Excel.
HRD: "Mas Brian, ini daftar hadir karyawan. Gaji pokok, tunjangan, potongan."
Brian: "Kenapa gaji Mas Anton lebih besar dari gaji Mbak Sari? Apakah karena gender?"
HRD: "Bukan. Mas Anton sudah 5 tahun, Mbak Sari baru 1 tahun."
Brian: "Itu tidak adil. Senioritas tidak mencerminkan kontribusi. Saya usul semua gaji disamakan."
HRD: "Lalu siapa yang mau bekerja keras?"
Brian: "Mereka yang punya passion. Gaji bukan motivator utama. Saya baca di buku."
HRD: "Buku itu ditulis siapa?"
Brian: "Simon Sinek."
HRD: "Simon Sinek bayar tagihan listriknya pakai apa?"
Brian: "...Motivasi."
Bapak masuk ke ruangan. Mendengar usul gaji rata. Langsung bilang:
Bapak: "Brian, mulai besok kamu gaji Rp 0. Karena kamu magang. Itu akan memotivasimu untuk punya passion."
Brian: "Tapi Pak, saya butuh uang bensin."
Bapak: "Naik motor listrik. Tanamkan passion untuk lingkungan."
Brian tidak pernah lagi membahas gaji rata.
Jam ke-81 sampai ke-100: Puncak Absurditas
Di jam ke-90, Brian mendapat "proyek besar" dari Bapak: memperbaiki sistem pengarsipan digital. Tanpa basa-basi, Brian memutuskan untuk mengganti seluruh software perusahaan dengan buatan sendiri. Karena katanya, software luar negeri "tidak sesuai dengan budaya perusahaan".
Dia rekrut temannya (lulusan IT yang lulus 3,5 tahun tapi belum pernah kerja) dengan bayaran 3 kali UMR. Mereka bekerja seminggu. Hasilnya: sebuah aplikasi bernama BautOS yang tidak bisa login karena lupa bikin tombol login.
Brian bilang: "Itu fitur keamanan. Tidak ada pintu masuk, jadi tidak ada yang bisa bobol."
Bapak hanya diam. Lalu menyuruh Brian mengganti semua password akun perusahaan dari "admin123" menjadi "baut123". Itu satu-satunya kontribusi Brian yang dipakai sampai sekarang.
Jam ke-100: Upacara Selesai Magang
Tepat jam ke-100, Bapak memanggil semua karyawan ke ruang rapat. Brian berdiri di depan, memegang sertifikat magang yang dicetak sendiri (dengan desain aesthetic, tentu saja). Bapak berpidato:
"Anak saya telah menyelesaikan 100 jam magang. Ia telah belajar banyak: mulai dari fotokopi, rapat, hingga membuat aplikasi yang tidak bisa dipakai. Itu semua adalah proses. Saya bangga."
Brian lalu memberi kesan:
"Terima kasih. Saya sadar bahwa kerja itu sulit. Apalagi kalau harus bangun pagi. Tapi saya akan bawa semua pelajaran ini ke masa depan. Mulai besok, saya akan menjabat sebagai Asisten Direktur Khusus Bidang Inovasi."
Bapak mengangguk. Karyawan bertepuk tangan serempak. Saya juga tepuk tangan. Bukan karena setuju, tapi karena tangan saya butuh gerakan agar tidak mencubit diri sendiri.
Epilog: Satu Minggu Kemudian
Brian sudah resmi menjadi Asisten Direktur Khusus Bidang Inovasi. Ruang kerjanya di sebelah ruang Bapak, lebih besar dari ruang Om Budi. Gajinya tidak diketahui, tapi tiap hari dia bawa kopi dari Starbucks (bukan kopi kantoran yang pahit dan bikin putus asa).
Sistem BautOS akhirnya diganti lagi dengan software lama. Biaya penggantian: Rp 500 juta. Bapak bilang itu "biaya pendidikan putra mahkota".
Dan saya? Saya masih sama. Fotokopi, bikin laporan, dan diam saat Brian memberi ide memasang sensor gerak di setiap baut produksi.
Tapi setidaknya, sekarang saya punya jawaban ketika orang bertanya:
"Apa bedanya magang biasa dengan magang putra mahkota?"
Jawabannya: Magang biasa belajar kerja keras. Magang putra mahkota belajar jadi bos tanpa perlu kerja keras dulu.
Dan itu, dalam bisnis keluarga, adalah logika paling masuk akal yang pernah ada.
Selesai.







Posting Komentar