Perjalanan dari Arafah menuju Muzdalifah
Setiap Jamaah Punya Cerita di Tanah Suci
Di antara jutaan langkah menuju kesempurnaan haji, setiap jamaah memiliki kisah perjuangannya sendiri.
Menurut cerita yang disampaikan Abah Anas, saat perjalanan Armuzna, P. H. Suryono dan P. H. Bejo sempat terpisah dari rombongan. Di tengah padatnya arus jamaah, keduanya baru ditemukan kembali di sekitar Pintu 19 di Muzdalifah. Sebuah momen yang tentu menegangkan, namun berakhir dengan rasa syukur ketika mereka berhasil berkumpul kembali.
Sementara itu, saya, H. M. Taufiq, memiliki pengalaman yang berbeda.
Perjalanan dari Arafah menuju Muzdalifah menjadi salah satu ujian fisik yang paling berat selama pelaksanaan haji. Setelah menyelesaikan wukuf di Arafah, kami harus menunggu bus dalam kondisi yang tidak mudah.
Kurang lebih dua jam berdiri sambil memanggul tas ARMUSNA, di tengah kelelahan yang luar biasa. Tenaga terasa terkuras habis. Wajah mulai pucat. Badan terasa lemas. Bahkan rasa mual dan ingin muntah terus menghampiri.
Dalam kondisi seperti itu, setiap menit terasa sangat panjang.
Ketika akhirnya bus tiba dan membawa kami menuju Muzdalifah, tubuh sudah berada di batas kemampuan.
Sesampainya di Muzdalifah, saya tidak lagi memikirkan apa pun selain memulihkan kondisi badan. Begitu menemukan tempat yang memungkinkan untuk beristirahat, saya langsung duduk, kemudian berbaring di hamparan tanah Muzdalifah.
Dan di situlah, tanpa direncanakan, saya tertidur.
Kurang lebih satu jam saya terlelap di bawah langit Muzdalifah.
Mungkin bagi sebagian orang itu hanya tidur singkat. Namun bagi saya saat itu, tidur tersebut terasa seperti pertolongan Allah yang datang tepat pada waktunya.
Ketika terbangun, badan terasa jauh lebih segar. Rasa mual berkurang. Tenaga mulai kembali pulih. Pikiran menjadi lebih jernih.
Keesokan harinya, perjalanan menuju Mina pun dapat dijalani dengan lebih baik.
Alhamdulillah, saat turun dari bus di Mina, kondisi tubuh sudah jauh lebih kuat. Saya segera mencari informasi kepada petugas mengenai lokasi tenda jamaah kami.
Ada sedikit kekhawatiran apakah jamaah MNJ akan tersebar di beberapa lokasi atau tidak. Namun setelah dilakukan pengecekan dan survei tempat, kabar baik pun datang.
Alhamdulillah, seluruh jamaah MNJ 2025 dapat menempati area yang sama dan tidak terpisah-pisah.
Saat itu rasa lega dan syukur sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Dari kisah terpisahnya jamaah, kelelahan yang hampir membuat tubuh menyerah, hingga akhirnya dapat berkumpul kembali dalam satu rombongan, semuanya menjadi pelajaran bahwa perjalanan haji bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang kesabaran, kebersamaan, dan pertolongan Allah yang datang pada saat yang paling dibutuhkan.
Setiap jamaah punya cerita. Setiap langkah punya ujian. Dan setiap ujian selalu menyimpan hikmah yang indah bagi yang menjalaninya.
🕋 Labbaik Allahumma Labbaik. 🤲✨
#haji , #haji mabrur , #haji kemenag , #haji 2026 , #haji furoda , #haji pintar , #haji berapa hari







Posting Komentar