Kisah Perjalanan Kami dari Bus Menuju Tenda
Menunggu di Arafah: Kisah Perjalanan Kami dari Bus Menuju Tenda
Tanggal 4 Juni 2025 itu akhirnya tiba.
Hari yang selama bertahun-tahun hanya kami dengar dari cerita para alumni haji.
Hari ketika jutaan jamaah dari seluruh dunia bergerak menuju satu tempat yang sama.
Arafah.
Sejak pagi suasana hotel sudah terasa berbeda.
Koridor yang biasanya tenang mulai ramai oleh langkah kaki jamaah yang lalu-lalang. Terdengar suara sandal yang beradu dengan lantai marmer, suara salam yang saling bersahutan, dan obrolan ringan yang penuh semangat.
Semua orang tampak sibuk dengan persiapan terakhir.
Tidak ada koper besar yang diseret.
Tidak ada barang berlebihan.
Hampir semua jamaah hanya membawa tas Armuznah dan tas kesehatan.
Tas yang sederhana.
Tetapi berisi kebutuhan untuk menjalani hari-hari yang menjadi inti dari ibadah haji.
Saya, Rahmat, bersama istri saya, berangkat dalam satu regu yang dipimpin oleh Bapak H. M. Taufiq.
Dalam rombongan itu ada mertua saya, Bapak Suryono.
Ada Bapak Zamhari.
Ada Bapak Anas.
Ada Bapak Lukman.
Ada Pak Bejo.
Ada Pak Daud.
Dan banyak jamaah lainnya yang selama beberapa minggu di Makkah telah menjadi teman seperjalanan.
Pagi itu saya masih memeriksa isi tas Armuznah.
Powerbank.
Ponsel.
Charger.
Botol air minum.
Sandal cadangan.
Obat pribadi.
Dan beberapa makanan ringan.
Saya memastikan semuanya ada di tempatnya.
Mertua saya, Bapak Suryono, melihat saya sambil tersenyum.
"Rahmat, kalau dicek terus nanti malah bingung sendiri."
Saya tertawa.
Beliau memang selalu tampak lebih tenang dibanding saya.
Mungkin karena pengalaman hidup membuat beliau lebih santai menghadapi berbagai keadaan.
Menjelang siang kami turun ke lobi hotel.
Puluhan jamaah sudah berkumpul.
Sebagian duduk sambil berdzikir.
Sebagian berbincang dengan teman sekamar.
Sebagian lagi sibuk berfoto untuk mengabadikan momen sebelum berangkat menuju Arafah.
Wajah-wajah mereka menunjukkan perasaan yang hampir sama.
Bahagia.
Harap-harap cemas.
Dan sedikit terharu.
Karena semua sadar bahwa perjalanan ini bukan perjalanan biasa.
Ini adalah perjalanan menuju puncak ibadah haji.
Tidak lama kemudian bus yang kami tunggu tiba.
Bus putih besar berhenti tepat di depan hotel.
Petugas mulai mengarahkan jamaah.
Nama demi nama dipanggil.
Jumlah jamaah dihitung.
Semua dipastikan lengkap.
Ketika menaiki tangga bus, saya sempat menoleh ke belakang.
Gedung-gedung tinggi Makkah berdiri megah.
Lalu lintas masih ramai seperti biasa.
Sulit dipercaya bahwa beberapa jam lagi kami akan berada di Padang Arafah.
Tempat yang selama ini hanya kami lihat dalam buku manasik, televisi, dan cerita para jamaah haji sebelumnya.
Saya duduk di bagian tengah bus.
Di dekat saya duduk mertua saya, Bapak Suryono.
Istri saya duduk tidak jauh dari kami.
Di belakang terdengar suara Pak Bejo yang sejak awal selalu berhasil mencairkan suasana.
"Kalau nanti saya hilang, jangan cari saya."
Pak Daud langsung menjawab,
"Lho, kalau panjenengan hilang, kita lapor siapa?"
"Tunggu saja saya ditemukan dulu."
Sontak satu bus tertawa.
Suasana yang semula tegang langsung berubah hangat.
Bus perlahan bergerak meninggalkan hotel.
Awalnya perjalanan terasa seperti perjalanan biasa.
Gedung-gedung tinggi masih terlihat.
Hotel-hotel besar berdiri di kiri dan kanan jalan.
Toko-toko dan pusat perbelanjaan masih tampak ramai.
Namun semakin jauh meninggalkan pusat kota, pemandangan mulai berubah.
Bangunan semakin jarang.
Bukit-bukit batu mulai mendominasi.
Hamparan tanah berwarna kecokelatan membentang luas.
Sesekali terlihat bus-bus lain yang membawa jamaah dari berbagai negara.
Di dalam bus suasana perlahan berubah menjadi lebih khusyuk.
Talbiyah mulai dilantunkan.
"Labbaikallahumma labbaik..."
Awalnya hanya beberapa orang.
Kemudian semakin banyak yang mengikuti.
Tak lama kemudian seluruh bus dipenuhi lantunan talbiyah.
Suara itu bergema di dalam ruang bus.
Menyentuh hati.
Menggetarkan jiwa.
Saya memandang keluar jendela sambil mengikuti talbiyah.
Saat itu saya benar-benar merasakan bahwa perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat.
Ini adalah perjalanan menuju salah satu hari terpenting dalam hidup seorang muslim.
Sekitar pukul setengah tiga siang kami memasuki kawasan Arafah.
Bus mulai bergerak lebih lambat.
Semakin jauh masuk ke kawasan Arafah, jumlah kendaraan semakin banyak.
Bus demi bus berbaris.
Jamaah demi jamaah terus berdatangan.
Di depan kami terlihat lautan kendaraan yang seakan tidak ada habisnya.
Dari berbagai negara.
Dari berbagai bangsa.
Dengan bahasa yang berbeda.
Tetapi dengan tujuan yang sama.
Mencari ampunan Allah.
Ketika bus akhirnya berhenti, kami mengira perjalanan telah selesai.
Namun ternyata ujian kesabaran baru dimulai.
Petugas menyampaikan informasi.
"Mohon tetap berada di dalam bus. Lokasi tenda masih dikonfirmasi."
Awalnya kami mengira hanya beberapa menit.
Tetapi waktu terus berjalan.
Lima belas menit.
Tiga puluh menit.
Empat puluh lima menit.
Satu jam.
Lebih dari satu jam.
Kami tetap berada di dalam bus.
AC masih menyala.
Tetapi sebagian jamaah mulai gelisah.
Ada yang berdiri lalu duduk kembali.
Ada yang melihat jam.
Ada yang bertanya kepada petugas.
Ada yang hanya memandang keluar jendela.
Bapak Anas membuka peta di ponselnya.
Seolah-olah beliau bisa menemukan lokasi tenda lebih cepat daripada petugas.
Pak Daud langsung berkomentar,
"Kalau sudah ketemu, jangan lupa kabari panitianya."
Satu bus kembali tertawa.
Di luar jendela pemandangan sangat menakjubkan.
Ribuan jamaah berjalan kaki.
Sebagian membawa tas Armuznah.
Sebagian mendorong kursi roda.
Sebagian menggandeng orang tua mereka.
Sebagian berjalan sambil berdzikir.
Matahari masih terasa panas.
Namun perlahan mulai bergerak ke arah barat.
Warna langit berubah.
Dari biru terang menjadi kekuningan.
Bayangan kendaraan mulai memanjang.
Suasana semakin indah.
Meski menunggu lama, tidak ada yang benar-benar merasa sendirian.
Air minum dibagikan.
Kurma berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya.
Biskuit dibuka dan ditawarkan kepada teman sebelah.
Orang-orang saling menjaga.
Saling mengingatkan.
Saling menghibur.
Di situlah saya merasakan bahwa haji bukan hanya tentang ibadah pribadi.
Tetapi juga tentang persaudaraan.
Akhirnya sekitar pukul empat lewat terdengar kabar yang kami tunggu.
"Alhamdulillah. Tenda sudah ditemukan."
Kalimat sederhana itu langsung disambut ucapan syukur.
Bus kembali bergerak perlahan.
Tidak jauh.
Hanya beberapa ratus meter.
Kemudian berhenti.
Ketika pintu bus terbuka, udara Arafah langsung menyambut.
Panas.
Kering.
Dan khas padang pasir.
Kami turun satu per satu sambil membawa tas Armuznah dan tas kesehatan masing-masing.
Saat kaki pertama kali menginjak tanah Arafah, ada perasaan yang sulit dijelaskan.
Haru.
Syukur.
Takjub.
Semuanya bercampur menjadi satu.
Saya menoleh kepada istri saya.
Kemudian kepada mertua saya, Bapak Suryono.
Dalam hati saya berdoa.
"Ya Allah, terima kasih Engkau mempertemukan kami di tempat yang mulia ini."
Di depan kami terbentang ribuan tenda putih.
Berjejer rapi sejauh mata memandang.
Hampir semuanya tampak sama.
Jika tanpa petugas, mungkin kami akan kebingungan mencarinya.
Kami berjalan mengikuti Bapak H. M. Taufiq.
Kadang berhenti.
Kadang berbelok.
Kadang harus memberi jalan kepada rombongan lain.
Semakin sore, kawasan Arafah semakin ramai.
Rombongan dari seluruh Indonesia terus berdatangan.
Terdengar logat Jawa.
Madura.
Lombok.
Kalimantan.
Sulawesi.
Sumatera.
Papua.
Berbeda-beda.
Tetapi hari itu semuanya terasa dekat.
Kami berasal dari daerah yang berbeda.
Tetapi berdiri di tanah yang sama.
Membawa harapan yang sama.
Memohon kepada Tuhan yang sama.
Akhirnya tenda kami terlihat.
"Ini dia."
Suara petugas terdengar seperti kabar paling membahagiakan sore itu.
Kami masuk satu per satu.
Begitu merasakan hembusan AC dari dalam tenda, hampir semua jamaah spontan mengucapkan kalimat yang sama.
"Alhamdulillah..."
Karpet tebal terbentang rapi.
Tempat istirahat tersedia.
Suasana terasa nyaman.
Bapak Lukman langsung duduk sambil tersenyum lebar.
Pak Bejo mengangkat kedua tangan.
"Alhamdulillah, akhirnya bukan di bus lagi."
Tawa kembali pecah.
Menjelang magrib, langit Arafah berubah menjadi jingga keemasan.
Cahaya matahari masuk melalui sela-sela tenda.
Suasana yang sejak siang ramai perlahan berubah menjadi tenang.
Saya memandang sekeliling.
Melihat istri saya.
Melihat mertua saya, Bapak Suryono.
Melihat Bapak Taufiq yang sejak tadi memastikan seluruh anggota regu lengkap.
Melihat teman-teman seperjalanan yang wajahnya mulai kembali segar setelah perjalanan panjang.
Saat itulah saya menyadari sesuatu.
Mungkin suatu hari nanti saya akan lupa nomor bus yang kami naiki.
Mungkin saya akan lupa nomor tenda tempat kami bermalam.
Mungkin saya akan lupa berapa lama kami menunggu.
Tetapi saya tidak akan pernah lupa orang-orang yang menjalani semua itu bersama saya.
Karena ternyata kenangan terindah dalam perjalanan haji bukan hanya tentang tempat yang kami datangi.
Melainkan tentang orang-orang yang Allah pertemukan untuk berjalan bersama menuju tempat itu.
Dan sore itu, di Padang Arafah, saya belajar bahwa perjalanan menuju ridha Allah sering kali diisi oleh kesabaran, kebersamaan, tawa, dan rasa syukur yang akan terus hidup dalam kenangan sepanjang hayat.
#haji , #haji mabrur , #haji kemenag , #haji 2026 , #haji furoda , #haji pintar , #haji berapa hari







Posting Komentar